Oleh: ppmi | Juni 12, 2008

Kelebihan Shalat Tahajjud

bersama bang egie

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang
yang melakukannya
mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs
Al-Isra:79) tapi juga
sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil
penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah
satu shalat sunah itu bisa membebaskan
seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat
tahajjud. “Jika anda melakukannya secara rutin, benar,
khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi
dan kanker”. Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan
‘tukang obat’ jalanan. Dia melontarkan pernyataanya
itu dalam desertasinya yang berjudul ‘Pengaruh Sholat
tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response
ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan
Psiko-neuroimunologi” Dengan desertasi itu, Sholeh
berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu
kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas
Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya
merupakan ibadah salat
tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan
secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas,
secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan
tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A
dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi
positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu
untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar
menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah
mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada sisi
rutinitas sholat, ketepatan gerakan,kekhusukan, dan
keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat
masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis.
Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan
tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini
dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara
kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol.
Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan
kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah hormon
kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690
nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul
24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau
jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan
orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu
sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini
yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran
agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu
penelitian terhadap 41responden sisa SMU Luqman Hakim
Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa
itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat
tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi,
tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama
dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak
11* rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam
plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka
diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita,
Prodia dan Klinika). Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi
tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas
berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan
tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud
memiliki ketahanan tubuh dan kemampuanindividual untuk
menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan
stabil. “Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah,
juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang
dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara
memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping
yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan
seseorang dari stress,”Nah, menurut Sholeh, orang
stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit
kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang
dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas
serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons
imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar
dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan
hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud
yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai
ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa
keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua
rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan
oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal
kita??????? Seorang Doktor di Amerika telah memeluk
Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di
dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan
tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal
fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah
memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam
dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang
bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian
pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan
yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran.
Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan
sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk
Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu
kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat
saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh
darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan
darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih
normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu
akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki
urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika
seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud.
Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat
tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian
urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang
diwajibkan oleh Islam.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: